Ada pemandangan berbeda di Balai Konservasi Mangrove di Salebba pada Minggu, 19 Maret 2017 lalu. Dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional, Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mengadakan sebuah event lintas alam bertajuk “Mangrove Park Race 2017”, yang diikuti 40 tim yang terdiri dari pelajar/mahasiswa dan komunitas-komunitas pecinta alam di Bontang. Sejak pertama kali diumumkan, antusias masyarakat sangat positif, mungkin karena event serupa sudah sangat lama tidak digelar.

Lomba yang terdiri dari 3 sampai 4 orang per-tim tersebut diawali dengan sambutan dari Walikota Neni, yang juga sangat menyambut hangat diadakanya lomba lintas alam tersebut. Terlihat wajah-wajah penuh semangat dari tiap peserta, meski cuaca hari itu sangat terik.

Sehati pun tak mau melewatkan event spesial tersebut. Turun dengan 4 tim, Teman Sehati tampil kompak dengan kostum kebesarannya. Mendapat nomor urut start paling buncit tidak lantas membuat Teman Sehati hilang semangat. Justru kami menyambut lomba tersebut penuh dengan semangat dan optimisme tinggi.

Lomba baru dimulai pukul 08.00 Wita, setiap pemberangkatan diisi oleh 3 tim dengan jarak pemberangkatan 3 menit per kloternya. Setelah menunggu 30 menit akhirnya tim kami diberangkatkan. Di pos pemberangkatan kami mendapatkan tugas memecahkan peta buta perjalanan dan soal tentang TNK dan lingkungan. Soal-soal tersebut diserahkan di pos 1. Setelah menyerahkan jawaban soal dari pos pemberangkatan di pos 1, kami mendapatkan tugas baru, yakni memecahkan sebuah sandi yang ditulis pada secarik kertas. Kami pun mencoba memecahkan sandi tersebut bersama-sama.

Setelah menyelesaikan tantangan kedua, kami mendapat tantangan berikutnya, yakni kami diharuskan mengidentifikasi burung yang kami temui diperjalanan dan mencatatnya pada sebuah kertas. Dan tantangan tersebut pun kami selesaikan. Tak berhenti sampai disitu, kami kembali mendapatkan tantangan berikutnya, yakni mengidentifikasi jenis pohon Mangrove yang sudah diberi tanda oleh panita. Menurut kami inilah tantangan yang paling seru, kami dipaksa berpikir keras untuk mengenali jenis pohon Mangrove yang ditandai panitia.

Perjalanan semakin berat ketika memasuki kawasan penanaman Mangrove, jalan berlumpur sukses menghambat langkah setiap peserta, tak jarang kaki peserta tertancap dalam kubangan lumpur, untung ada team rescue yang siap mengantisipasi kejadian-kejadian serupa. Tantangan berikutnya adalah ketua tim diminta memasukkan tangannya dalam sebuah tas keresek dalam 10 detik, setelah itu ketua tim harus menyebutkan benda apa yang ada didalam tas keresek tersebut. Lomba dilanjutkan dengan tantangan berikutnya yakni melewati sebuah jaring yang dibentuk sedemikian rupa, pengurangan nilai berlaku jika peserta menyentuh jaring tersebut atau mematahkan ranting pohon Mangrove.

Hari semakin terik, tenaga kian terkuras. Untungnya garis finish sudah dekat. Tak lama berjalan dari tantangan terakhir tersebut akhirnya kami bener-bener sampai di garis finish. Berjalan kaki di medan berlumpur hampir 3 jam lamanya membuat tenaga kami benar-benar terkuras. Kami lantas membersihkan sepatu dan pakaian kami yang dipenuhi bercak lumpur. Setelah itu kami menyantap makan siang yang sudah disiapkan panitia.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu peserta datang juga, yakni pengumuman pemenang. Semua peserta menyimak dengan seksama hasil penjurian yang telah dibuat oleh panitia. Juara 1, 2 dan 3 pun diumumkan. Sayang sekali kami belum beruntung. Meski demikian kami sangat bahagia bisa turut serta memeriahkan acara keren ini. Kami pun menyambut antusias informasi dari Kepala Balai TNK tentang akan diadakannya sebuah event yang sudah sangat kami tunggu-tunggu, yakni Kutai Wana Rally (KWR) yang akan digelar bulan Juli mendatang.

Semoga event-event semisal rutin digelar, selain sebagai sarana refreshing, kegiatan lomba lintas alam tersebut diharapkan mampu menanamkan nilai cinta lingkungan kepada seluruh masyarakat. Sampai jumpa di event berikutnya. Salam hidup sehat lahir dan bathin. (pp)

Advertisements