Terkadang kita harus mengunjungi banyak tempat di bumi ini, agar kita tahu betapa maha indah lukisan alam yang Allah ciptakan. Dari sanalah kita akan tahu betapa maha besar pencipta alam semesta ini, dengan mentafakuri setiap pemandangan serta kejadian yang mengitarinya. Maka sungguh beruntung orang-orang yang mau berfikir tentang keajaiban penciptaan alam semesta ini dengan keteraturan dan akurasi yang sempurna, saat itulah kita akan merasa bahwa kita ini hanya makhluk lemah, tak berdaya dan penuh dengan ketergantungan.

Sabtu, 25 Februari 2017 lalu kami pergi ke pulau Beras Basah. Agenda utamanya adalah bermalam sekaligus rihlah. Tak seperti agenda pengunjung lainya, kami juga menyisipkan agenda muhasabah dan tetap menjaga kewajiban kami sebagai seorang muslim.

Berangkat bersama rombongan besar, sekitar 30 peserta berangkat bersama dari pelabuhan Tanjung Laut pukul 17.00 wita. 45 menit berselang kami sampai di pulau eksotis tersebut. Saat itu kondisi air laut sedang pasang dengan gelombang yang cukup membuat kapal yang sandar terombang-ambing.

Mabit Beras Basah 01 Mabit Beras Basah 02

Kami segera mencari tempat dan mendirikan tenda. Tak lama berselang kumandang adzan Magrib menggema. Kami bergegas untuk menjalankan sholat Magrib lalu dilanjutkan dengan makan malam. Pemandangan seru mulai terjadi manakala sebuah kelompok beraksi dengan memulai membakar ikan yang telah disiapkan dari rumah. Sementara kelompok lain ada yang membawa bekal sehingga langsung bersantap malam bersama.

Sekedar informasi di pulau Beras Basah memang tidak ada aliran listrik, sehingga kami hanya mengandalkan lampu emergency sebagai penerang. Pun hal nya dengan air bersih. Kami harus membeli dengan kisaran harga Rp. 5.000,-/jirigen 5 liter untuk MCK dan berwudhu. Namun hal tersebut sama sekali tidak mengurangi antusias kami.

Selepas sholat Isya, agenda dilanjutkan dengan muhasabah dan tafakur alam. Kami belajar banyak dari pemandangan sekitar, dari pasang surut gelombang air laut. Malam semakin larut, lalu masing-masing kelompok bersiap untuk menuju tenda masing-masing. Cuaca malam itu kurang bersahabat, rintik-rintik hujan mulai turun. Perlahan tapi pasti debit air hujan semakin melimpah dan hembusan angin laut semakin kencang. Kami berlindung dibalik selimut masing-masing.

Mabit Beras Basah 03 Mabit Beras Basah 04

Malam semakin larut dan hujan tak jua reda, hingga puncaknya pada pukul 02.00 dinihari, sebagian anggota tubuh kami mulai basah. Saat itu pula tanpa pikir panjang kami mengemasi barang bawaan kami dan langsung menuju Musholla untuk berteduh. Meski cuaca kurang bersahabat namun hal tersebut justru membuat kami larut dalam gelak tawa, kami sungguh menikmati suasana malam itu.

Agenda kami lanjutkan dengan sholat malam hingga sholat Subuh berjamaah. Lalu kami berolahraga bersama, menikmati udara segar di tepi pantai. Setelah olahraga pagi kami menyantap sarapan pagi dengan menu mie kuah ditambah bekal yang sudah kami siapkan sebelumnya.

Mabit Beras Basah 05 Mabit Beras Basah 06

Sebelum pulang kami membersihkan sisa sampah semalam. Tepat pukul 09.00 wita kami semua menuju kapal dan bersiap untuk kembali pulang. Sungguh perjalanan yang sangat menyenangkan, meski sempat diguyur hujan semalaman tapi semangat kami mengalahkan segalanya. Dari agenda ini setidaknya kami belajar banyak hal. Tentang kebersamaan, tentang rasa syukur, tentang berbagi dan tentang bagaimana memahami kesempurnaan ciptaan-Nya. (pp)

Advertisements