Pukul 01.30 dini hari kami sudah terbangun dan menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang cukup panjang, bayangan kami sesuai petunjuk dari mbah Google kami harus menempuh jarak sekitar 12 jam perjalanan darat untuk sampai di lokasi tujuan rihlah kami kali ini. Entah mungkin karena semangat kami yang menggebu-gebu  atau apa seolah waktu sepanjang itu tak terbayang sedikitpun rasa lelah atau bosan di pikiran kami.

Tepat pukul 3.45 mobil kami mulai melaju meninggalkan kota Bontang, kami sengaja memilih perjalanan malam hari untuk menghindari kondisi jalanan yang ramai pada siang hari yang mungkin bisa sedikit menghambat kecepatan mobil kami yang berarti menambah panjangnya waktu tempuh yang kami butuhkan.

Kami ber-sepuluh sangat menikmati perjalanan itu meski rasa lelah jelas gamblang terbayang di benak kami, bagaimana tidak 12 jam bukanlah waktu yang singkat untuk berada disebuah kendaraan, bagi yang tidak terbiasa waktu selama itu pasti akan terasa sangat membosankan apalagi jika ditambah dengan kondisi badan yang dilanda mabuk perjalanan, huft… bisa terbayang kan??? Hehehe… untungnya semangat kami membuat kami abai akan hal tersebut.

Pukul 4.45 kami sampai di kota Sangatta lalu kami istirahat sejenak sembari menjalankan ibadah sholat Subuh di salah satu masjid di pinggiran kota itu. Sebelum matahari terbit kami sudah melanjutkan perjalanan dengan harapan bisa sampai tujuan lebih cepat sehingga kami bisa memaksimalkan agenda yang telah kami susun sebelumnya.

Perjalanan yang panjang ditambah kondisi jalan yang tak selalu mulus karena kontur jalan yang berlubang sana-sini sesekali membuat kami bosan, namun canda tawa di dalam mobil selalu berhasil mencairkan suasana. Iya, kami sangat menikmati perjalanan tersebut, Alhamdulillah… makin tak sabar untuk segera sampai di tujuan, hehehe…

Pukul 09.00 pagi kami sampai di kecamatan Sangkulirang Kabupaten Kutai Timur, kami berhenti di masjid Al-Ihsan atau yang biasa dikenal masyarakat dengan masjid terapung karena posisinya yang dibangun diatas laut dimana pada saat posisi air laut pasang maka bangunan masjid tampak seperti terapung. Setelah beristirahat sejenak kami mencari warung untuk mengisi perut, hehehe… mengingat perjalanan masih panjang supaya badan kami tetap bugar.

Pulau Derawan 01 masjid-al-ihsan-sangkulirang

Selanjutnya kami bersiap-siap untuk menyebrang bersama mobil yang kami bawa dengan kapal Fery menuju Tungkap. Setelah kurang lebih 30 menit berada diatas kapal Fery sampailah kami di Tungkap dan saat itu waktu menunjukan pukul 12.00, lantas kami kembali melanjutkan perjalanan, oia sekedar info untuk biaya penyebarangan mobil kami membayar 400 ribu untuk 2 mobil.

Sampai di Tungkap kami memasuki kawasan perkebunan kelapa sawit yang super duper luas, wew… dengan kondisi jalanan yang belum di aspal mobil kami hanya mampu melaju dengan kecepatan kurang dari 40 km/jam. Sekian jam menyusuri perkebunan kelapa sawit kami belum juga keluar dari perkebunan tersebut, sempat beberapa kali salah jalan sepertinya hampir membuat kami frustasi, hehehe… untungnya kami masih sempat bertemu dengan beberapa orang yang melintas di jalan yang sama sehingga kami bisa bertanya dan akhirnya bisa menemukan jalan yang benar, aih… seru…

Pukul 14.45 kami sampai di Melawai dengan kondisi jalan yang masih sama dan pemandangan yang sama yakni kebun kelapa sawit, hahaha…. Kondisi badan sudah mulai lelah begitupun juga pikiran namun kami masih tetap semangat. Masih dengan cerita yang sama, salah jalan, hehehe… lagi-lagi kami beruntung masih ada orang baik yang menunjukan arah jalan yang benar.

Pukul 17.00 sampailah kami di Tembudan dan butuh waktu 1,5 Jam lagi untuk sampai di Kecamatan Biduk-biduk tepatnya di Labuan Cermin. Setelah kami pertimbangkan kami menunda  perjalanan ke Labuan Cermin karena secara hitung-hitungan ketika sampai di Labuan Cermin hari sudah gelap. Akhirnya kami istirahat sejenak di dekat jembatan sungai Lenggo Tembudan untuk istirahat sholat dan makan.

Pulau Derawan 03 Pulau Derawan 02

Kami melanjutkan perjalanan setelah sholat Maghrib, kondisi jalan menuju kota Berau memang tak selalu mulus karena ada beberapa bagian jalan yang berlubang oleh karena itu kami tak bisa memacu kendaraan kami dengan kecepatan tinggi ditambah kondisi jalan yang gelap karena tidak ada lampu penerangan di sepanjang jalan dan saat itu hujan turun dank abut tebal menyeruak di jalan-jalan yang kami lewati, lengkap sudah… hehehe… namun kami tetap melanjutkan perjalanan dengan mengurangi kecepatan mobil tentunya.

Tepat pukul 23.00 kami sampai di kota Berau dan kami langsung mencari penginapan, setelah menemukan penginapan kami pun bersiap merebahkan badan setelah seharian berada di mobil, bayangkan 20 jam berada di sebuah kendaraan pastinya menguras tenaga dan juga pikiran, Alhamdulillah kami dapat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya. (pp)

Bersambung….

Advertisements